Akankah kita berlaku seimbang memperlakukan dunia dan akhirat.
Ya Allah Engkau ciptakan kami sebagai mahluk-Mu dan khalifah di muka bumi dengan nikmat yang tidak dapat kami hitung semenjak kami lahir hingga kami mati nanti tidak lupa kami sanjung dengan sanjungan mahluk ciptaanMu yang paling sempurna, tetapi sudahkan kita menjadi manusia yang sempurna dalam bersyukur kepada Allah. Telah banyak nikmat-nikmat Allah yang telah kita rubah menjadi awal dari murkaNya.
Kita manusia terkadang terlupa akan hakikatnya hidup dan mati. Karena sudah merasakan nikmatntya kehidupan didunia, tidak sedikit mereka yang ingat kepada Allah disaat Fakir tetapi lupa akan Allah disaat mereka Jaya, terlebih teramat sombong mereka yang fakir dan melupakan akan hakikatnya keberadaan Allah SWT, zat yang tidak pernah tidur.
Kita terkadang tidak adil dalam menjalankan apa yang Nabi Muhammad SAW Sabdakan :
“Kejarlah duniamu seolah-olah engkau akan hidup seribu tahun lagi,
Tuntutlah akhiratmu seakan-akan engkau akan mati esok pagi”.
Dari sabda Rosul diatas bila manusia tertarik dengan hidup seribu tahun lagi, maka manusia akan merasakan fananya dunia ini dengan waktu yang lama. Disaat kita masih hidup kawan-kawan kita mungkin sudah banyak yg meninggalkan kita, Kalau mengisi kehidupan tersebut dengan beribadah kepada Allah dan berbuat baik beramal sholeh dalam pergaulan kita, maka kita dapat mengumpulkan bekal untuk di akhirat nanti lebih banyak lagi, tapi bagaimana bila sebaliknya seribu tahun yang kita jalankan akan diisikan dengan nilai-nilai negatif maka murka Allah akan besar kepada kita.
Tetapi bila manusia memilih kalimat kedua sebagai tujuan dari hidupnya “Tuntutlah akhiratmu seakan-akan engkau akan mati esok“, dengan kalimat yang seperti ini maka manusia akan selalu ingat dengan ajal, perlu diingat salah satu cara agar kita selalu ingat dengan Allah adalah dengan cara mengingat akan ajal kita. Dari sabda Rosul diatas berdasarkan logika antara seribu tahun dengan esok pagi yang lebih cepat adalah esok pagi. Jadi kita telah diberikan informasi bagaimana kita beribadah kepada Allah dengan melakukan perumpamaan. Perlu diingat mati pada hakikatnya adalah kehidupan yang abadi.
Sering kita mendengar informasi “Harus seimbang dong jangan hanya Agama saja yang diperbanyak, dunia juga memang kamu sekarang hidup dimana “.
Hal ini sangat disayangkan ingat masa depan kita adalah Akhirat. Umat nabi Muhammad SAW memiliki umur maksimum 60 -70 tahun rata-rata, jadi menjalani hidup didunia rata-rata hanya 60-70 tahun. Sedangkan kehidupan diakhirat kekal adanya,
Tetapi kalian justru mendahulukan kepentingan duniawi. Padahal kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal (Q.S. Al-A’laa :16-17)
Akankah kita berlaku seimbang memperlakukan dunia dan akhirat.









Comments »
The URI to TrackBack this entry is: http://furqoni.blogsome.com/2009/09/14/251/trackback/
No comments yet.
RSS feed for comments on this post.
LEAVE A COMMENT