Search:


Translate

inggris germany turkey

Site Recommendation

Community

jadijuragan - Join Our Make Money Program
Masukkan Code ini K1-34C7C4-C
untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com Adsense Indonesia

Rightbar Menu

Site Partners

Links:

Tumbuh kembang Anak

Tumbuh kembang anak ada baiknya kita selaku orang tua selalu mengetahui sudah dalam tahapan apa kemampuan anak kita pada umurnya. Apakah kemampuan anak kita rata-rata sama dengan kemampuan anak seumurnya atau di atas rata-rata anak seumurnya atau bahkan dibawah rata-rata anak seumurnya. Tentu yang hasil dari yang terakhir seperti yang sudah di sebutkan kita semua selaku orang tua tidak menginginkannya. Sebagai orang tua, jika kita salah bertindak saat menghadapi hal itu, bisa berakibat fatal menjadikan anak lemah mengatasi masalah, atau dalam bahasa psikologi disebut dengan proven solving……
menurut Prof Howard Gardner dari Universitas Harvard yang melakukan riset tentang kecerdasan pada balita yang dicetuskannya pada tahun 1983, beliau mengelompokkan kecerdasan menjadi tujuh tipe yaitu kecerdasan musik, kinestetik-tubuh, logika-matematika, bahasa, spasial, interpersonal dan intrapersonal.

Dalam seminar Peran Orang tua Dalam Menstimulasi Anak Cerdas Berkualitas di Rumah Sakit Harapan Kita, psikolog anak Rumah Sakit Harapan Kita Dra Anie Lurfia Perbowo mendeskripsikan kriteria anak cerdas dan kreatif ke dalam beberapa aspek. Yakni :

- Kemampuan umum
- Kreativitas
- Motivasi diri

Peran ketiganya sama penting. Meski seseorang berpotensi intelektual dan berkreativitas tinggi, namun bila dalam menghadapi tugas kurang menunjukkan motivasi maka yang bersangkutan tak akan berhasil. Sebaliknya, jika berkemampuan dan kreativitasnya dalam taraf sedang namun memiliki motivasi diatas rata-rata, maka dikatakan berpotensi.

Cerdas Versi IQ

Umumnya orang beranggapan hasil tes IQ berkaitan dengan kecerdasan. Anak ber-IQ 130 dianggap berkemampuan luar biasa dalam segala bidang. Jika anak jago olahraga namun ber-IQ taraf rata-rata, atau anak yang nilai matematikanya jeblok dan IQ-nya taraf rata-rata, maka dianggap anak bodoh.

Pemahaman seperti itu tak tepat, IQ hanya mengukur kemampuan linguistik dan logika matematika sedangkan KECERDASAN mengacu pada kemampuan problem solving.

Hasil tes IQ anak perlu dikritisi. Orang tua perlu menanyakan bisakah dan bagaimana cara mengoptimalkannya. Orangtua jangan cepat puas punya anak yang ber-IQ TINGGI lalu lupa untuk terus mendampingi dan menstimulasi anak. Sebaliknya jangan pula bersedih hanya gara-gara anak dinyatakan nilai IQ taraf DIBAWAH RATA-RATA, menganggap anak tak cerdas padahal mungkin saja belum diasah secara maksimal.

Kenyataannya IQ TINGGI tak menjamin yang bersangkutan berhasil dalam kehidupannya kelak, perannya hanya sebesar 20%.
Banyak contoh yang membuktikan hal tersebut antara lain orang yang berIQ TINGGI, namun belum tentu mampu berempati atau melakukan tindak pidana.

Lantas bagaimana menilai anak memiliki kreatifitas atau tidak, jika kemudian angka yang didapat kurang dari 70 saat test IQ.

Untuk mengetahui apakah anak kita kemudian mampu menjadi kreatif, Spesialis Anak RS Harapan Kita DR.SC. Utami Munandar lebih memilih anak melakukan uji analisa CQ (Creativity Quotient), EQ (Emotional Quotient), SQ (Spiritual Quotient).

Secara harfiah, untuk menggambarkan arti kreativitas sesungguhnya. “Arti kreativitas yakni sebagai kemampuan yang mencerminkan kelancaran keluwesan, orisinalitas berfikir dan kemampuan elaborasi (mengembangkan, memerkaya, merinci) suatu gagasan atau CQ (Creativity Quotient).

Banyak kita dapati perlakuan dan tindakan anak dengan berbagai polah dan tingkah laku. Sehingga ekspresi kreativitas anak kerap menimbulkan efek kurang berkenan bagi orangtua. Orangtua melarang anak merobek-robek kertas karena takut rumah jadi kotor, atau berteriak saat anak main pasir karena takut anak terkena kuman. Padahal tiap anak memiliki ekspresi kreativitas yang berbeda, ada yang terlihat suka mencoret-coret, beraktivitas gerak, berceloteh, melakukan eksperimen, dan seterusnya. Berarti penyikapan orangtua seperti itu menghambat kreativitas anak.

Unsur emosi EQ (Emotional Quotient) dalam kecerdasan adalah bagian berikutnya yang perlu diperhatikan. Kecerdasaan emosi merupakan kemampuan mengidentifikasikan emosi, mengekspresikan perasan, mengendalikan dan menunda ledakan emosi, memahami perasaan orang lain (empati), mampu menyesuaikan diri secara sosial.

SQ (Spiritual Quotient) bukan RQ (Religious Quotient)

RQ adalah ketrampilan dalam melaksanakan semua aturan agama yang dianutnya. SQ adalah kemampuan untuk berbuat sesuatu dengan kata hatinya yang manifenstasinya terlihat saat berinteraksi dengan sesama; misal bersikap ramah pada siapapun tanpa memandang suku atau agama misalnya.

Jika anak balita memiliki SQ paling tinggi, dia jujur mengungkapkan sesuatu beradsarkan apa yang ada di lubuk hatinya. Bila tak suka, anak balita akan bilang tak suka, tak memanipulasi jawabannya. Sejalan bertambahnya usia, SQ akan menurun, karenanya orangtua harus terus mengajarkan anak untuk mengembangkan SQ-nya, misal mengajarkan anak bahwa kakak menolong adik bukan karena dilandasi kewajibannya sebagai kakak semata, namun dilandasi nilai kasih saying pada adik.

Kemampuan IQ tinggi dengan dibarengi EQ belum cukup jika tidak dibarengi oleh SQ. Misalnya pada kasus mengerjar uang dan jabatan dengan cara mengabaikan apakah intelektual dan emosi yang digunakan telah menyingggung atau merugikan orang lain.

Jika semua unsur tadi sudah terpenuhi apakah kemudian anak sudah bisa dibilang sempurna ?

Pakar Sosilog anak Prof Howard Gardner dalam riset yang dilakukannya mendapati adanya kecerdasan anak yang majemuk. Dalam kesimpulannya, tidak ada anak bodoh dan pintar. “Yang ada anak yang menonjol dalam salah satu atau beberapa jenis kecerdasan” ujarnya.
Sikap dan pengetahuan orangtuanyalah yang menentukan apakah potensi kecerdasan anak akan berkembang atau justru padam.

Teori itu dilandasi oleh fakta bahwa kerusakan di bagian otak tertentu akan
membuat seseorang kehilangan kemampuan atau keterampilan tertentu. Jadi,
Gardner meyakini bahwa masing-masing tipe kecerdasan diatur oleh bagian otak
yang berbeda, misalnya tipe kecerdasan interper- sonal diatur oleh lobus
frontal, sedangkan tipe spasial diatur oleh spasial-belahan otak kanan.

Gardner merumuskan kecerdasan sebagai kemampuan untuk menyelesaikan suatu
persoalan atau menghasilkan produk dalam lingkup suatu budaya atau
komunitas. Dalam konteks ini, yang dimaksud dengan persoalan bervariasi dari
mengarang cerita, menyusun komposisi musik, meluluskan negosiasi politik,
sampai dengan menentukan langkah skak-mat.

Masing-masing tipe kecerdasan akan tercermin dari produk atau prestasi yang
ditampilkan pemiliknya. Hanya saja tampilan produk ini dipengaruhi oleh
faktor budaya yang ada. Misalnya kecerdasan bahasa di suatu masyarakat
menghasilkan seorang pengarang cerita handal, sementara di lingkup komunitas
lain berkembang menjadi seorang orator.

Kecerdasan Musik
Kecerdasan musik sangat jelas ditampilkan oleh Yehudi Menuhi yang pada usia
tiga tahun jatuh cinta pada biola, dan menjadi pemain biola internasional
pada usia 10 tahun. Tipe kecerdasan ini berkembang dengan sangat baik pada
musisi, penyanyi dan komposer. Sementara kecerdasan kinestetik-tubuh lebih
banyak dikuasai oleh olahragawan, penari, pemahat, maupun dokter bedah.

Kecerdasan logika-matematika dapat membantu seseorang menemukan solusi
persoalan yang melibatkan perhitungan angka, sedangkan kecerdasan bahasa
meliputi kemampuan dalam hal mengarang, membaca maupun berkomunikasi verbal.
Tipe kecerdasan ini banyak dikuasai oleh mereka yang berprofesi sebagai
sastrawan, penyair, wartawan, presenter, maupun orator.

Para navigator, arsitek, desainer interior maupun pemain catur dapat
digolongkan sebagai mereka yang menguasai kecerdasan spasial. Tipe
kecerdasan ini memudahkan seseorang untuk menentukan arah, menggunakan peta,
dan melihat objek dari berbagai sudut.

Memukau, mempengaruhi, dan terampil membina hubungan dengan orang lain
adalah ciri-ciri dari mereka yang memiliki kecerdasan interpersonal. Dengan
keterampilannya dalam membina hubungan dengan orang lain, mereka sangat
cocok mengambil profesi sebagai guru, psikolog, tenaga pemasaran atau
negosiator.

Jika kecerdasan interpersonal membantu seseorang untuk memahami dan bekerja
dengan orang lain, maka kecerdasan intrapersonal memudahkan seseorang untuk
memahami dan bekerja dengan dirinya sendiri. Orang dengan tipe kecerdasan
ini mampu memahami hal-hal yang ada di dalam dirinya dan menggunakannya
sebagai alat untuk mengarahkan tingkah lakunya sendiri. Berbeda dengan tipe
lainnya, perwujudan tipe kecerdasan ini membutuhkan perpaduan dengan tipe
kecerdasan lainnya, misalnya perpaduan dengan kecerdasan bahasa akan
melahirkan karya sastra yang berisi pemikiran atau filosofi menakjubkan.

Seseorang dapat memiliki beberapa tipe kecerdasan sekaligus, hanya
intensitasnya saja yang berbeda-beda. Mungkin saja komposisinya adalah satu
tipe kecerdasan yang menonjol dan beberapa tipe kecerdasan lain yang
sedang-sedang saja. Sebagai contoh konkret, untuk menjadi penyanyi sekaliber
Kris Dayanti, memiliki kecerdasan musik saja tidaklah cukup. Diperlukan juga
kecerdasan kintestetik tubuh (berekspresi lewat gerakan tubuh), linguistik
(mengolah komunikasi), dan interpersonal (membina relasi dengan penggemar
atau media).

Sayangnya tidak semua tipe kecerdasan ini dihargai oleh masyarakat. Sekolah
pun cenderung lebih menghargai tipe kecerdasan logika-matematika dan bahasa.
Seorang siswa dengan nilai matematika 9 namun memperoleh nilai 5 pada
pelajaran olahraga tidak akan dianggap bermasalah.

Sebaliknya, seorang kapten tim dengan nilai matematika 5 akan dianggap
memiliki masalah. Mengikuti kursus matematika sepertinya telah menjadi suatu
keharusan, sedangkan kursus musik masih dianggap sebagai barang mewah.
Apalagi kecerdasan interpersonal yang sepertinya terlupakan untuk
dikembangkan sejak usia dini.

Cara belajar di sekolah yang lebih banyak menggunakan metode ceramah dan
membaca buku ajar juga hanya menguntungkan siswa dengan tipe kecerdasan
linguistik dan logika. Padahal siswa dengan tipe kecerdasan yang berbeda
memiliki cara belajar yang berbeda. Sebaiknya sekolah memiliki berbagai
metode pengajaran yang dapat mengakomodasi kebutuhan semua tipe kecerdasan.

Siswa tipe musik lebih cocok mempelajari materi yang dikaitkan atau dikemas
dalam bentuk musik. Siswa tipe kinestetik dapat menghafal dengan bantuan
gerakan tubuh, sedangkan tipe spasial akan sangat tertolong bila materi
pelajaran dikemas dalam bentuk tabel, grafik, diagram atau mind-mapping.
Belajar kelompok akan lebih sesuai untuk siswa dengan tipe interpersonal,
tetapi akan menyulitkan siswa tipe intrapersonal yang lebih cocok untuk
belajar seorang diri.

Kegagalan di Sekolah
Penekanan yang berlebihan pada tipe kecerdasan logika-matematika dan bahasa
membuat peluang sukses di sekolah sepertinya hanya tersedia bagi anak-anak
dengan kedua tipe kecerdasan ini. Kegagalan di sekolah jelas akan
mempengaruhi perkembangan kepribadian dan masa depan mereka. Oleh sebab itu
masyarakat dengan sekolah-sekolah semacam ini akan lebih banyak dipenuhi
orang-orang yang gagal atau yang dianggap gagal.

Identifikasi kecerdasan majemuk berbeda dengan pengukuran konsep kecerdasan
tradisional yang dapat dilakukan dengan tes terstandardisasi. Tes IQ yang
ada saat ini hanya dapat mengidentifikasi tipe kecerdasan bahasa,
logika-matematika, spasial dan sebagian tipe interpersonal.

Untuk melakukan identifikasi terhadap tipe kecerdasan majemuk, Gardner lebih
menganjurkan agar orangtua dan pihak sekolah menyediakan beragam sarana dan
prasarana yang terkait dengan ketujuh tipe kecerdasan tersebut. Setelah itu,
amati bidang apa yang lebih diminati oleh anak, seberapa mendalam ia
mengeksplorasi hal tersebut, dan sejauh mana ia menikmati aktivitas yang
dilakukannya.

Proses identifikasi ini harus melibatkan peran serta orangtua, guru, teman
dan anak itu sendiri dalam rentang waktu yang tak dapat ditentukan. Sebagai
contoh, dalam mengidentifikasi tipe kecerdasan anak usia SD, Gardner
menggunakan berbagai kegiatan termasuk kegiatan bermain. Di antaranya adalah
“permainan berburu harta karun” yang mengukur kemampuan anak dalam membuat
kesimpulan logis, “persepsi musik” yang mengukur kemampuan anak dalam
membedakan nada.

Ada pula “storyboard” yang mengukur rentang keterampilan berbahasa,
“portfolio seni” yang dinilai dua kali dalam setahun tentang penggunaan
garis, bentuk, warna, ruang, detil dan desain, gerakan atletik untuk
mengamati koordinasi, keseimbangan dan kekuatan tubuh dalam berbagai jenis
olahraga, dan “model kelas” untuk mengukur kemampuan anak dalam
mengobservasi dan menganalisa kejadian dan pengalaman sosial di kelas.

Kurungan Ayam
Apabila ingin mencari indikator dalam waktu singkat (namun kurang dapat
diandalkan), Anda dapat mengajak anak Anda ke sebuah ruangan yang berisi
berbagai macam alat dan permainan dari ketujuh tipe kecerdasan. Amatilah
alat permainan dan jenis aktivitas yang menarik perhatian mereka. Cara ini
mengingatkan kita pada upacara turun tanah dalam adat Jawa, di mana anak
diletakkan dalam kurungan ayam berisi berbagai benda. Benda yang diambil
dipercayai akan menjadi profesinya kelak.

Walaupun tipe kecerdasan ini terkait pula dengan natur seseorang, namun
rangsangan dari luar tetap diperlukan agar kecerdasan yang dimiliki dapat
terwujud dalam hasil karya yang nyata. Memperkenalkan anak pada berbagai
jenis aktivitas dinilai akan lebih bermanfaat daripada memfokuskannya pada
satu bidang saja. Pemberian rangsangan yang dibatasi pada satu tipe saja
akan membuat tipe kecerdasan lainnya (yang mungkin juga dimiliki anak)
menjadi mati dan tak dapat berkembang.

Dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan gencarnya penelitian, tidak tertutup
kemungkinan akan ada tipe kecerdasan baru yang tereksplorasi. Pada tahun
1999, Gardner sedang mempertimbangkan tipe kecerdasan naturalis sebagai tipe
ke-8, yaitu kemampuan untuk bekerja sama dan menyelaraskan diri dengan alam.
Hal itu menunjukkan bahwa kelebihan anak Anda yang selama ini tidak pernah
Anda anggap sebagai bukti kecerdasan, mungkin saja suatu hari akan
dinyatakan sebagai tipe kecerdasan.

Nah, setelah membaca uraian di atas, dapatlah Anda dengan yakin menjawab
pertanyaan “Apakah Anak Anda Cerdas?”

Sumber GloriaNet– Indosiar

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://furqoni.blogsome.com/2008/06/25/software-untuk-perkembangan-anak/trackback/

No comments yet.




RSS feed for comments on this post.

LEAVE A COMMENT



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.