Furqoni

Search:


Translate

inggris germany turkey

Site Recommendation

Community

jadijuragan - Join Our Make Money Program
Masukkan Code ini K1-34C7C4-C
untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com Adsense Indonesia

Rightbar Menu

Site Partners

Links:

Mobil Nasional

Sebuah cita-cita yang telah lama ada pada dunia otomotif Indonesia yaitu memiliki kendaraan nasional dalam artian buatan manusia - manusia Indonesia. Dalam catatan sejarah ada beberapa produk yang pernah diangan-agankan untuk menjadi mobil nasional (Mobnas) tetapi akhirnya hanya tinggal cerita cita-cita anak bangsa saja. Semoga Esemka tidak seperti para seniornya. Akankah cita - cota tersebut hilang diterkam dengan politik dagang para produsen mobil dunia yang selama ini sudah banyak menikmati gurihnya pasar Indonesia.


esemka rajawali

1.MR 90 (Mobil Rakyat 90)
Adalah proyek nasional pertama yang pada saat itu keluar dari PT Indomobil dengan menggunakan Mazda 323 Hatchback yang akhirnya berubah menjadi Van trend

2.Maleo
Cerita cita-cita mobnas yang mengambil nama binatang khas sulawesi ini mungkin secara samar-samar dapat ditebak siapa penggagasnya, sang penggagas Maleo adalah BJ Habibie yang pada saat itu 1996 menjabat sebagai menristek, harga yang dipatok pada saat itu untuk sebuah maleo adalah tidak lebih dari 30 Jt dengan tujuan agar terjangkau untuk lapisan masyarakat. Dengan menggunakan mesin 1200 cc hasil kerjasama dengan perusahaan Australia yang menggabungkan teknologi mesin 2 tak dengan teknologi injeksi. Pada saat itu direncanakan maleo akan menyetok 80 & kandungan lokal.
Satu unit mobil berhasil dibuat sebagai contoh. Namun sata dana untuk itu kemudian tersedot untuk proyek mobnas Timor milik Tommy Suharto sehingga proyek Maleo berhenti.

3. Kalla Motor
Kalla Motor pernah menciptakan mobil kecil bermesin 500 cc sebagai calon mobil produksi Indonesia. Tidak dketahui kenapa tidak jadi diproduksi.

4.Bakrie Beta 97 MPV
Grup Bakrie melalui Bakrie Brothers pernah menyiapkan mobil Minibus pada tahun 1994. Rancangan mobil ini berjenis Minibus atau MPV, mobil yang dinamakan Beta 97 MPV ini memiliki desain orisinal buatan rumah desain Shado asal Inggris, satu unit mobil contoh sudah dibuat dan diuji coba di Inggris. Pada bulan April 1995 disain Beta 97 MPV selesai dan mulai diperlihatkan ke manajemen Bakrie dan setelah itu, desain tersebut langsung dikembangkan hingga prototipe mobil ini selesai di tahun 1997. Namun belum sempat keluar lagi-lagi tersandung krisis moneter tahun 1998 sehingga proyek tersebut tidak jadi dilanjutkan.

(more…)

Bapak Tua Penjual Amplop ...

Setiap menuju ke Masjid Salman ITB untuk shalat Jumat, saya selalu melihat seorang bapak tua yang duduk terpekur di depan dagangannya. Dia menjual kertas amplop yang sudah dibungkus di dalam plastik. Sepintas barang jualannya itu terasa “aneh” di antara pedagang lain yang memenuhi pasar kaget di seputaran Jalan Ganesha setiap hari Jumat.


amplop1

Pedagang di pasar kaget umumnya berjualan makanan, pakaian, DVD bajakan, barang mainan anak, sepatu dan barang-barang asessoris lainnya. Tentu agak aneh dia “nyempil” sendiri menjual amplop, barang yang tidak terlalu dibutuhkan pada zaman yang serba elektronis seperti saat ini.

Masa kejayaan pengiriman surat secara konvensional sudah berlalu, namun bapak itu tetap menjual amplop. Mungkin bapak itu tidak mengikuti perkembangan zaman, apalagi perkembangan teknologi informasi yang serba cepat dan instan, sehingga dia pikir masih ada orang yang membutuhkan amplop untuk berkirim surat.
< ! -- more -->
Kehadiran bapak tua dengan dagangannya yang tidak laku-laku itu menimbulkan rasa iba. Siapa sih yang mau membeli amplopnya itu? Tidak satupun orang yang lewat menuju masjid tertarik untuk membelinya. Lalu lalang orang yang bergegas menuju masjid Salman seolah tidak mempedulikan kehadiran bapak tua itu.

Kemarin ketika hendak shalat Jumat di Salman saya melihat bapak tua itu sedang duduk terpekur. Saya sudah berjanji akan membeli amplopnya itu usai shalat, meskipun sebenarnya saya tidak terlalu membutuhkan benda tersebut. Yach, sekedar ingin membantu bapak itu melariskan dagangannya.

Seusai shalat Jumat dan hendak kembali ke kantor, saya menghampiri bapak tadi. Saya tanya berapa harga amplopnya dalam satu bungkusa plastik itu. “Seribu”, jawabnya dengan suara lirih.


amplop2

Ya Allah, harga sebungkus amplop yang isinnya sepuluh lembar itu hanya seribu rupiah? Uang sebesar itu hanya cukup untuk membeli dua gorengan bala-bala pada pedagang gorengan di dekatnya. Uang seribu rupiah yang tidak terlalu berarti bagi kita, tetapi bagi bapak tua itu sangatlah berarti. Saya tercekat dan berusaha menahan air mata keharuan mendengar harga yang sangat murah itu. “Saya beli ya pak, sepuluh bungkus”, kata saya.

Bapak itu terlihat gembira karena saya membeli amplopnya dalam jumlah banyak. Dia memasukkan sepuluh bungkus amplop yang isinya sepuluh lembar per bungkusnya ke dalam bekas kotak amplop. Tangannya terlihat bergetar ketika memasukkan bungkusan amplop ke dalam kotak.

Saya bertanya kembali kenapa dia menjual amplop semurah itu. Padahal kalau kita membeli amplop di warung tidak mungkin dapat seratus rupiah satu. Dengan uang seribu mungkin hanya dapat lima buah amplop. Bapak itu menunjukkan kepada saya lembar kwitansi pembelian amplop di toko grosir. Tertulis di kwitansi itu nota pembelian 10 bungkus amplop surat senilai Rp 7500.

“Bapak cuma ambil sedikit”, lirihnya. Jadi, dia hanya mengambil keuntungan Rp250 untuk satu bungkus amplop yang isinya 10 lembar itu. Saya jadi terharu mendengar jawaban jujur si bapak tua. Jika pedagang nakal ‘menipu’ harga dengan menaikkan harga jual sehingga keuntungan berlipat-lipat, bapak tua itu hanya mengambil keuntungan yang tidak seberapa.

Andaipun terjual sepuluh bungkus amplop saja keuntungannya tidak sampai untuk membeli nasi bungkus di pinggir jalan. Siapalah orang yang mau membeli amplop banyak-banyak pada zaman sekarang? Dalam sehari belum tentu laku sepuluh bungkus saja, apalagi untuk dua puluh bungkus amplop agar dapat membeli nasi.

Setelah selesai saya bayar Rp 10.000 untuk sepuluh bungkus amplop, saya kembali menuju kantor. Tidak lupa saya selipkan sedikit uang lebih buat bapak tua itu untuk membeli makan siang. Si bapak tua menerima uang itu dengan tangan bergetar sambil mengucapkan terima kasih dengan suara hampir menangis. Saya segera bergegas pergi meninggalkannya karena mata ini sudah tidak tahan untuk meluruhkan air mata.

Sambil berjalan saya teringat status seorang teman di fesbuk yang bunyinya begini: “bapak-bapak tua menjajakan barang dagangan yang tak laku-laku, ibu-ibu tua yang duduk tepekur di depan warungnya yang selalu sepi. Carilah alasan untuk membeli barang-barang dari mereka, meski kita tidak membutuhkannya saat ini. Jangan selalu beli barang di mall-mall dan toko-toko yang nyaman dan lengkap….”.

Si bapak tua penjual amplop adalah salah satu dari mereka, yaitu para pedagang kaki lima yang barangnya tidak laku-laku. Cara paling mudah dan sederhana untuk membantu mereka adalah bukan memberi mereka uang, tetapi belilah jualan mereka atau pakailah jasa mereka. Meskipun barang-barang yang dijual oleh mereka sedikit lebih mahal daripada harga di mal dan toko, tetapi dengan membeli dagangan mereka insya Allah lebih banyak barokahnya, karena secara tidak langsung kita telah membantu kelangsungan usaha dan hidup mereka.

Dalam pandangan saya bapak tua itu lebih terhormat daripada pengemis yang berkeliaran di masjid Salman, meminta-minta kepada orang yang lewat. Para pengemis itu mengerahkan anak-anak untuk memancing iba para pejalan kaki. Tetapi si bapak tua tidak mau mengemis, ia tetap kukuh berjualan amplop yang keuntungannya tidak seberapa itu.

Di kantor saya amati lagi bungkusan amplop yang saya beli dari si bapak tua tadi. Mungkin benar saya tidak terlalu membutuhkan amplop surat itu saat ini, tetapi uang sepuluh ribu yang saya keluarkan tadi sangat dibutuhkan si bapak tua.


amplop3

Kotak amplop yang berisi 10 bungkus amplop tadi saya simpan di sudut meja kerja. Siapa tahu nanti saya akan memerlukannya. Mungkin pada hari Jumat pekan-pekan selanjutnya saya akan melihat si bapak tua berjualan kembali di sana, duduk melamun di depan dagangannya yang tak laku-laku.

sumber : http://rinaldimunir.wordpress.com/2011/11/19/bapak-tua-penjual-amplop-itu/

Kamera Memang Bisa Berbohong

furqoni.blogsome.com

“Dicari gadis model, syarat: fotogenik.” Sesekali, iklan seperti ini bisa kita temui di koran, majalah, atau syarat wajib di agensi model.

Apakah kalian tahu, sebenarnya syarat di atas omong kosong. Terlihat cantik atau tidak bukan karena wajah kita punya bakat “fotogenik” atau “camera face”. Dengan permainan make up serta kepiawaian fotografer/kameramen memilih sudut terbaik, bisa menghasilkan “kecantikan” sesuai yang diinginkan


kamera bohong

Tidak percaya? Seorang fotografer Stephen Eeastwood membuktikan mengapa kita kita kadang-kadang terlihat bagus di foto dan kadang-kadang tampil mengerikan. Kuncinya ada pada lensa yang dipakai.

Perhatikan hasil foto yang dibuat Mr. Eastwood dengan cara mengubah lensa 19mm ke 350mm.


km1
km2

Rahasianya:

1. Semakin pendek fokus lensa, bidang pandang yang kita tangkap semakin luas. Itulah mengapa ‘fisheye’ lensa (15mm) mendistorsi objek secara dramatis.
2. Sebuah lensa yang lebih besar (contoh: 350mm) akan meratakan dan memperluas wajah subjek. Karena itu, kadang-kadang bisa membuat telinga terlihat lebih jauh ke belakang, atau membuat hidung terlihat lebih besar.
3. Para ahli mengatakan lensa 135mm akan menghasilkan gambar terbaik, hasil yang paling akurat.

Jadi, kalau sekarang kita terlihat jelek di kamera setidaknya bisa memberi alasan kepada sang juru potret: “Ah, pakai lensa yang salah, sih!”

: Dailymail

Merek-Merek Terbaik Tahun Ini

Furqoni.blogsome.com

Lembaga konsultan merek, Interbrand, merilis daftar 100 merek produk terbaik di dunia. Di antara produk yang berseliweran di pasar dunia, Apple muncul sebagai produsen dengan merek produk bernilai tinggi yang mengalami peningkatan peringkat tertinggi di antara produsen lain.

Bahkan, seperti dikutip dari laman interbrand.com, lonjakan kenaikan peringkat ini membuat merek produk Apple masuk dalam 10 besar merek bernilai tinggi di dunia.

Dalam memberikan penilaian terhadap merek produk terbaik ini, Interbrand melakukan pemeringkatan berdasarkan pada tiga faktor.

Pertama, kinerja keuangan. Dalam kategori ini, Interbrand menilai sebuah produk dilihat dari kontribusinya pada pendapatan perusahaan. Untuk memberikan penilaian lebih maksimal, Interbrand menggunakan perkiraan pendapatan selama lima tahun mendatang.

Kriteria kedua dilihat dari peran dari merek. Pada kategori ini, Interbrand menilai porsi keputusan konsumen dalam membeli merek produk, harga, serta fasilitas yang disediakan.

Ketiga, kriteria yang digunakan adalah kekuatan merek. Interbrand menggunakan kriteria ini untuk menilai kemampuan sebuah merek produk terhadap pendapatan perusahaan pada tahun mendatang.

1. Coca Cola (Nilai merek US$71,86 miliar)

Minuman bersoda, Coca Cola, tetap menjadi merek terkenal sepanjang masa disaat perayaannya yang ke 125 tahun. Coca Cola terus mengembangkan bisnis dan mereknya dengan menjadi sponsor sejumlah event terkenal seperti Piala Dunia FIFA.

Selama ini merek Coca Cola sangat erat kaitannya dengan bantuan bencana, pemberdayaan kaum muda, serta isu-isu keberlangsungan di dunia.

Sebagai minuman ringan, Coca Cola relatif memiliki pasar yang stabil seiring nilai mereka yang terus bergerak maju. Laporan perusahaan menunjukan, setidaknya rata-rata 1,7 miliar minuman Coca Cola disediakan per hari di seluruh dunia.

2. IBM (Nilai merek US$69,91 miliar)

IBM yang baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke 100, kini semakin kuat dibandingkan masa-masa sebelumnya. IBM kini tak hanya menawarkan perangkat keras, tapi mulai beralih ke pelayanan, pengetahuan, dan kini inovasi.

Advokasi yang terus menerus dilakukan IBM dengan perangkat lunak open source telah membuat unit pelayanan semakin produktif.

3. Microsoft (Nilai merek US$59,09 miliar)

Tak bisa dipungkiri lagi, Microsoft merupakan perangkat lunak yang mendominasi sistem operasi komputer di seluruh dunia. Hal ini merupakan berkah sekaligus kutukan mengingat komputer masa depan kini beralih ke dunia mobile.

Para pesaing kini terus memanjakan konsumen dengan menghasilkan aplikasi mobile yang mengalihkan penggunaan dari perangkat individu menjadi ecosystem. Google diperkirakan akan terus memberikan tekanan pada keuntungan Microsoft, dan aplikasi Google juga akan mengancam bisnis Microsoft.

4. Google (Nilai merek US$53,32 miliar)

Dengan pertumbuhan nilai merek sebesar 27 persen dibandingkan tahun lalu, posisi Google sebagai salah satu merek terkenal dunia terus tumbuh dan tampaknya tidak ada yang dapat menghentikannya.

Google kini fokus dalam pengembangan produk-produk baru pada tahun-tahun terakhir, termasuk Chromebook.

Disamping berusaha menarik sebanyak mungkin pengunjung website, Google juga terus melanjutkan upaya untuk menarik dan mempertahankan para pegawainya. Serta memastikan para pekerja ini terikat dengan kesuksesan perusahaan.

5. General Electric (Nilai merek US$42,80 miliar)

GE terus melanjutkan langkahnya menjadi sebuah produk yang dihormati di dunia, sebuah contoh untuk kekuatan imaginasi. Ketika bencana nuklir Fukushima, Jepang menghasilkan pemberitaan buruk dari media AS pada tahun 2011, GE tetap mampu mempertahankan posisinya di dunia, beroperasi di lebih dari 100 negara dan mempekerjakan 300 ribu orang.

GE saat ini memperkenalkan dua program andalan untuk setiap platform produknya berupa ecomagination dan healthymagination. Dua hal yang memposisikan kredibilitas GE di pasar global.

Bagaimana dan kapan Merek dari produk anda tercantum ……

Sumber Vivanews

OpiniKu "Masi Byar Pet Mao Eksport" ...

Senin 7 Nov 2011 dengan udara yang segar karena masih sedikit emisi kendaraan yang keluar, mata memandang jauh dibalik kaca gedung terlihat jelas gugusan punggungan gunung salak. Sudah jarang terlihat sekarang ini karena tingginya tingkat kekotoran udara Jakarta. Lanjut .. setelah berbicara tentang udara yang segar dan melihat gugusan punggungan pucak gunung salak Bogor, sekarang saya coba untuk memberikan opini pribadi saya tentang apa yang saya dapat dari KOmpas.com pagi ini pada kompas.com dengan judul “Ekspor listrik untungkan Singapura”, pada kalimat awalnya pemerintah mengkaji untuk wacana ekport listrik ke Singapura. Sepertinya ada yang aneh menurut saya dengan tujuan dari wacana tersebut. Sebelum kita memberikan suatu yang baru biasanya kita akan melakukan evaluasi kepada yang lama-lama terlebih dahulu terlebih itu bersifat produk jadi ataupun jasa. Kenapa justru wacana eksport listrik ke Singapura, apakah rakyat Indonesia sudah semuanya terterangi dengan listrik ? pertanyaan itu akan muncul dengan sendirinya dibenak saya. kalau sudah terterangi berapa kualitas yang didapat apakah 100% , 90 %, 70 % atau < 50 %.
Bukankah lebih baik energi tersebut kita gunakan untuk Rakyat Indonesia terlebih dahulu, ya untuk rakyat indonesia dari semua kalangan. Karena setelah saya intip2 hasil dari penelitian dari BPPT yang berjudul “Pengembangan Sistem Kelistrikan Dalam Menunjang Pembangunan Nasional
Jangka Panjang” sebelumnya mohon maaf belum ijin sama yang punya ini dokumen :) he he he. Bahwa Indonesia rasio elektrifikasi nasional perwilayah tahun 2003, 2008 dan 2013 masih ada yang dibawah 50 % untuk beberapa provinsi, walaupun alhamdulillah beberapa percepatan tersebut ada juga yang terjadi dibeberapa wilayah semisal Jawa - Bali yang informasi didapat telah mengalami peningakatan menjadi 73.9 % untuk tahun 2011 (“>detik.com). Alangkah baiknya bila kita menerangi terlebih dahulu seluruh Indonesia dengan listrik baru kita lakukan Eksport. Karena beberapa pengelaman terjadi .. Indonesia kekurangan Gas sedangkan Gas telah diekport ke China. Hal ini seharusnya menjadi suatu catatan bagi pemerintahan RI.